teks

Kartika Listyana Ningrum

Selasa, 17 Februari 2015

Laporan Keuangan (Dasar-Dasar Akuntansi)


A. TUJUAN

Berdasar Neraca Lajur dapat disusun laporan keuangan perusahaan. Tujuan dari disusunnya laporan keuangan adalah untuk menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi pengambilan keputusan pemakaiannya.

Laporan juga menunjukkan apa yang telah dilakukan manajemen atau pertanggungjawaban manajemen atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya.




B. LAPORAN KEUANGAN

Laporan keuangan perusahaan terdiri dari :



Laporan Laba Rugi

yaitu laporan mengenai pendapatan, beban, dan laba atau rugi suatu perusahaan dalam suatu periode tertentu.



Laporan Perubahan Modal

yaitu laporan yang menyajikan perubahan modal karena penambahan dan pengurangan dari laba/rugi dan transaksi pemilik.



Neraca

yaitu laporan yang menggambarkan posisi keuangan dari suatu perusahaan yang meliputi aktiva, kewajiban dan ekuitas pada suatu saat tertentu.



Laporan Arus Kas

yaitu laporan yang menggambarkan penerimaan dan pengeluaran kas selama satu periode tertentu. Laporan Arus Kas akan dibahas dalam bab tersendiri.

C. CONTOH

Berdasarkan contoh Neraca Lajur pada BAB VIII dapat disusun laporan keuangan sebagai berikut:

Tn. RAKA

LAPORAN PERUBAHAN MODAL

Per 31 Desember 2002


AKTIVA

Aktiva Lancar:

Kas                                                  Rp. 356.250.000,-
Piutang dagang                                        5.000.000,-
Asuransi di bayar dimuka                           500.000,-
Piutang Pendapatan                                   500.000,-


Aktiva Tetap:
Kendaraan                 150.000.000
Ak. depr. Kendr             9.000.000
Peralatan             Rp. 141.000.000,-
                                                                     50.000.000,-
                                                            Rp. 553.250.000,-
HUTANG

Hutang Dagang                     Rp. 50.000.000,-
Hutang gaji                                     2.000.000,-
Pendapatan ditrm dimuka               600.000,-



MODAL
Modal Tn. Raka                                           500.650.000,-
                                                     Rp. 553.250.000,-

Latihan 15

Berdasarkan data di bawah ini, susunlah Laporan Rugi Laba untuk PT TAKSAKA periode 1 Januari 2002 sampai dengan 31 Desember 2002.


Beban Perlengkapan kantor …………………………….
Beban iklan ………………………………………………
Beban gaji pegawai ……………………………………
Beban sewa kantor ………………………………………
Beban asuransi …………………………………………
Pendapatan………………………………………………
Beban telepon……………………………………………
Beban listrik dan air ……………………………………
Beban penyusutan mesin………………………………
Beban penyusutan mobil ………………………………
Pendapatan bunga ………………………………………
Beban bunga ……………………………………………
Rp. 75.000,-

Rp. 350.000,-

Rp. 4.000.000,-

Rp. 500.000,-

Rp. 200.000,-

Rp. 7.500.000,-

Rp. 125.000,-

Rp. 100.000,-

Rp. 300.000,-

Rp. 200.000,-

Rp. 250.000,-

Rp. 200.000,-








D. LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS/MODAL




Latihan 16

Dengan menggunakan data Laporan Rugi Laba di atas susun Laporan Perubahan Modal PT TAKSAKA per 31 Desember 2002 dengan asumsi Modal 1 Januari 2002 sebesar Rp. 1.200.000,- dan pengambilan oleh pemilik sebesar Rp. 300.000,-.




Latihan 17

Berdasarkan data di bawah ini dan data Laporan Perubahan Modal dalam Latihan 16, susunlah Neraca untuk PT TAKSAKA per tanggal 31 Desember 2000.



Kas ……………………………………………………………

Hutang lancar ………………………………………………

Hutang pajak …………………………………………………

Asuransi dibayar di muka……………………………………

Peralatan ………………………………………………………

Kendaraan ……………………………………………………

Akumulasi penyusutan peralatan …………………………

Piutang …………………………………………………………

Akumulasi penyusutan kendaraan …………………………..

Sewa yang masih harus dibayar ……………………………

Perlengkapan kantor …………………………………………
Rp. 400.000,-

Rp. 350.000,-

Rp. 50.000,-

Rp. 130.000,-

Rp. 1.500.000,-

Rp. 1.200.000,-

Rp. 300.000,-

Rp. 460.000,-

Rp. 200.000,-

Rp. 200.000,-

Rp. 160.000,-


Pengertian Akuntansi, Fungsi dan Bidang Akuntansi


Pengertian Akuntansi

Ilmuakuntansi.web.id – Akuntansi adalah suatu aktivitas jasa (mengidentifikasikan, mengukur, mengkalsifikasikan dan mengikhtisarkan) kejadian atau transaksi ekonomi yang menghasilkan informasi kuantitatif terutama yang bersifat keuangan yang digunakan dalam pengambilan keputusan (Amin. W, 1997)

Pengertian Akuntansi menurut Abubakar. A & Wibowo (2004) adalah proses identifikasi, pencatatan dan komunikasi terhadap transaksi ekonomi dari suatu entitas/perusahaan.

Dari pengertian-pengertian akuntansi diatas, maka akuntansi terdiri dari tiga aktivitas atau kegiatan utama yaitu:
Aktivitas identifikasi yaitu mengidentifikasikan transaksi-transaksi yang terjadi dalam perusahaan.
Aktivitas pencatatan yaitu aktivitas yang dilakukan untuk mencatat transaksi-transaksi yang telah diidentifikasi secara kronologis dan sistematis.
Aktivitas komunikasi yaitu aktivitas untuk mengkomunikasikan informasi akuntansi dalam bentuk laporan keuangan kepada para pemakai laporan keuangan atau pihak yang berkepentingan baik internal perusahaan maupun pihak eksternal.
Fungsi dan Bidang-Bidang Akuntansi Pengertian akuntansi

Akuntansi seringkali dinyatakan sebagai bahasa perusahaan yang berguna untuk memberikan informasi yang berupa data-data keuangan perusahaan yang dapat digunakan guna pengambilan keputusan. Setiap perusahaan memerlukan dua macam informasi tentang perusahaannya yaitu informasi mengenai nilai perusahaan dan informasi tentang laba/rugi usaha. Kedua informasi tersebut berguna untuk:
Mengetahui besarnya modal yang dimiliki perusahaan
Mengetahui perkembangan ayau maju mundurnya perusahan
Sebagai dasar untuk perhitunngan pajak
menjelaskan keadaan perusahaan sewaktu-waktu memrlukan kredit dari bank atau pihak lain
Dasar untuk menentukan kebijakan yang akan ditempuh
Menarik minat investor saham jika perusahaan berbentuk perseroan terbatas.

Untuk memperoleh informasi-informasi tersebut diatas, pengusaha hendaknya mengadakan catatan yang teratur mengenai transaksi-transaksi yang dilakukan perusahaan yang dinyatakan dalam satuan uang.

Didalam ilmu akuntansi telah berkembang bidang-bidang khusus dimana perkembangan tersebut disebabkan oleh meningkatnya jumlah dan ukuran perusahaan serta peraturan pemerintah. Adapun bidang-bidang akuntansi yang telah mengalami perkembangan antara lain sebagai berikut:
Akuntansi Keuangan (Financial atau General Accounting) menyangkut pencatatan transaksi-transaksi suatu perusahaan dan penyusunan laporan berkala dimana laporan tersebut dapat memberikan informasi yang berguna bagi manajemen, para pemilik dan kreditor.
Pemeriksaan Akuntansi (Auditing) merupakan suatu bidang yang menyangkut pemeriksaan laporan-laporan keuangan melalui catatan akuntansi secara bebas yaitu laporan keuangan tersebut diperiksa mengenai kejujuran dan kebenarannya.
Akuntansi Manajemen (Management Accounting) merupakan bidang akuntansi yang menggunakan baik data historis maupun data data taksiran dalam membantu manajemen untuk merencanakan operasi-operasi dimasa yang akan datang.
Akuntansi Perpajakan (Tax Accounting) mencakup penyusunan laporan-laporan pajak dan pertimbangan tentang konsekuensi-konsekuensi dari transaksi-transaksi perusahaan yang akan terjadi.
Akuntansi Budgeter (Budgetary Accounting) merupakan bidang akuntansi yang merencanakan operasi-operasi keuangan (anggaran) untuk suatu periode dan memberikan perbandingan antara operasi-operasi yang sebenarnya dengan operasi yang direncanakan.
Akuntansi untuk Organisasi Nirlaba (Non profit Accounting) merupakan bidang yang mengkhususkan diri dalam pencatatan transaksi-transaksi perusahaan yang tidak mencari laba seperti organisasi keagamaan dan yayasan-yayasan sosial.
Akuntansi Biaya (Cost Accounting) merupakan bidanng yang menekankan penentuan dan pemakaian biaya serta pengendalian biaya tersebut yang pada umumnya terdapat dalam persahaan industri.
Sistem Akuntansi (Accounting System) meliputi semua tehnik, metode dan prosedur untuk mencatat dan mengolah data akuntansi dalam rangka memperoleh pengendalian intern yang baik, dimana pengendalian intern merupakan suatu sistem pengendalian yang diperoleh dengan adanya struktur organisasi yang memungkinkan adanya pembagian tugas dan sumber daya manusia yang cakap dan praktek-praktek yangn sehat.
Akuntansi Sosial (Social Accounting) merupakan bidang yang terbaru dalam akuntansi dan yang paling sulit untuk diterangkan secara singkat, kerena menyangkut dana-dana kesejahteraan masyarakat.

Sebagai suatu sistem, didalam akuntansi terdapat beberapa asumsi atau konsep dasar. Asumsi dasar tersebut antara lain:

A. Kesatuan Usaha (Business Entity)

Konsep ini menganggap bahwa aktiva suatu perusahaan terpisah dari aktiva pribadi orang yang menyediakan aktiva (modal) yang dipergunakan dalam perusahaan tersebut. Dalam akuntansi, pengertian konsep kesatuan usaha, utang dan biaya pribadi pemilik akan dikeluarkan dari pembukuan perusahaan walaupun aktiva, utang dan pendapatan perusahaan tersebut dimiliki olehnya sendiri atau dengan kata lain segala utang dan biaya pribadi harus diperhitungkan terpisah dari perusahaan.

B. Perusahaan Berjalan (Going Concern)

Dalam konsep ini diasumsikan perusahaan didirikan untuk jangka waktu yang ditentukan misalnya di Indonesia untuk perusahaan yang berbentuk PT masa berdirinya adalah 75 tahun, yaitu adanya anggapan bahwa selama satu kesatuan usaha masih menguntungkan, maka dia dapat berjalan terus selama waktu yang tidak terbatas.

C. Periode Akuntansi (Time Periods)

Mempertimbangkan akan banyaknya berbagai keputusan mengenai jalannya operasi perusahaan, maupun pihak-pihak lain yang berkepentingan selama berlangsungnya operasi perusahaan maka jangka waktu pembuatan laporan yang umum adalah satu tahun.

D. Satuan Uang (Money Measurement)

Semua transaksi perusahaan dicatat dalam satuan uang, yaitu sesuatu perubahan aktiva dapat diukur dengan stuan tertentu.

E. Harta Perolehan (Costing of Assets)

Seluruh aktiva pada umumnya dibukukan sebesar harga perolehannya.

F. Aspek Ganda (Dual Aspect)

Setiap pencatatan suatu kejadian atau transaksi akan berpengaruh pada sedikitnya dua akun perkiraan dalam pembukuan.

G. Konsep Akrual (Accrual Concept)

Konsep ini berkaitan dengan perhitungan laba/rugi perusahaan yang menekankan suatu kejadian pada suatu periode tertentu baik merupakan biaya maupun hasil.

Penjelasan Siklus Akuntansi Perusahaan Dagang (Tahap Pencatatan)

Penjelasan Siklus Akuntansi Perusahaan Dagang (Tahap Pencatatan)
Penjelasan Siklus Akuntansi Perusahaan Dagang (Tahap Pencatatan) - Beberapa hal yang berkaitan dengan catatan-catatan akuntansi dan prosedur-prosedur untuk perusahaan dagang tidak jauh berbeda dengan perusahaan jasa. Siklus akuntansi perusahaan dagang juga terdiri atas kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
1. Tahap Pencatatan
·         Pembuatan atau penerimaan bukti transaksi
·         Pencatatan dalam jurnal
·         Pemindahbukuan ke buku besar

2. Tahap Pengikhtisaran
·         Pembuatan neraca saldo
·         Pembuatan jurnal penyesuaian
·         Pembuatan neraca lajur

3. Tahap Pelaporan
·         Penghitungan harga pokok penjualan
·         Pembuatan laporan keuangan
·         Pembuatan jurnal pembalik
·         Pembuatan jurnal penutup
·         Pembuatan neraca saldo setelah penutup.

Untuk saat ini akan dijelaskan Tahap Pencatatan
a. Bukti Transaksi
Setiap transaksi yang terjadi dalam perusahaan harus ada buktinya. Dalam melakukan transaksi jual beli, sebuah perusahaan dagang akan membuat atau memperoleh bukti transaksi. Berikut ini beberapa bentuk bukti-bukti transaksi pada perusahaan dagang.

1) Faktur
Bagi penjual, faktur akan menjadi bukti penjualan yang disebut faktur penjualan. Sedangkan bagi pembeli, faktur menjadi bukti pembelian (faktur pembelian). Jumlah yang dicatat oleh pembeli maupun penjual adalah jumlah akhir faktur.

2) Nota Kredit
Kadang-kadang barang yang diperjualbelikan harus dikembalikan dengan alasan karena rusak, tidak sesuai dengan yang dipesan, dan lain-lain. Oleh karena itu penjual akan membuat suatu bukti transaksi yang merupakan kebalikan dari faktur penjualan, yaitu nota kredit. Bagi penjual, nota kredit akan menjadi bukti penerimaan kembali (retur penjualan). Sedangkan bagi pembeli, nota kredit akan menjadi bukti penerimaan kembali (retur pembelian).

3) Kuitansi
Setiap pengeluaran oleh perusahaan perlu dibuatkan kuitansi yang ditandatangani oleh si penerima pembayaran. Bagian perusahaan, kuitansi ini akan menjadi bukti pembayaran (pengeluaran uang). Sedangkan bagi penerima, kuitansi ini akan menjadi bukti penerimaan uang.

b. Pencatatan Transaksi dalam Jurnal Umum
Secara umum akuntansi perusahaan dagang tidak jauh berbeda dengan akuntansi perusahaan jasa. Perbedaannya terletak pada kegiatan (proses akuntansi) yang dilakukan kedua perusahaan tersebut. Perlu diketahui bahwa dalam perusahaan dagang terdapat akun barang dagang dan akun-akun lain yang berhubungan dengan barang dagang. Hal ini yang membedakan dengan perusahaan jasa. Untuk menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang bersifat prinsip antara proses pencatatan (jurnal) transaksi pada perusahaan jasa dengan perusahaan dagang.
Akun retur pembelian dibuat untuk mencatat pengembalian barang yang dibeli dari pemasok atau suplier. Akun retur penjualan dibuat untuk mencatat pengembalian barang yang dijual kepada langganan atau nilai barang yang dikembalikan oleh langganan kepada perusahaan.

c. Jurnal Khusus
1) Pengertian Jurnal Khusus
Setiap terjadi transaksi maka harus dicatat dalam jurnal umum dan diposting ke buku besar. Hal tersebut akan mudah dilakukan bila transaksi yang terjadi jumlahnya sedikit. Namun apabila jumlah transaksinya banyak, penggunaan jurnal umum menjadi tidak efisien. Untuk mengatasi hal tersebut maka digunakan jurnal khusus (buku harian khusus). Penggunaan jurnal khusus dapat menghemat waktu, tenaga, dan biaya. Berikut ini beberapa manfaat jurnal khusus.
a) Memudahkan pemindahbukuan ke buku besar
Pada jurnal khusus disediakan kolom-kolom khusus untuk beberapa jenis transaksi tertentu. Dengan cara ini penulisan nama akun pada waktu membuat ayat jurnal tidak perlu dilakukan tiap transaksi. Posting transaksi dari jurnal ke buku besar dilakukan sekaligus untuk transaksi-transaksi yang terjadi selama satu periode.
b) Memungkinkan pembagian pekerjaan
Setiap jurnal khusus dapat digunakan untuk mencatat satu jenis transaksi saja, sehingga memungkinkan pembagian tugas pencatatan kepada beberapa orang.
Dari uraian tersebut kita dapat mengetahui bahwa jurnal umum mempunyai perbedaan dengan jurnal khusus. Perbedaan antara jurnal umum dengan jurnal khusus dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Jurnal Umum
Jurnal Khusus
1.     Bentuk jurnal umum terdiri atas tanggal, akun, keterangan, referensi (ref), dan jumlah yang terdiri atas debit dan kredit.
2.    Semua transaksi hanya dicatat pada satu jurnal.
3.    Posting atau pemindahbukuan dari jurnal ke akun buku besar dilakukan setiap terjadi transaksi.
4.    Biasanya digunakan untuk perusahaan dagang yang masih berskala kecil.
1.     Bentuk jurnal khusus disesuaikan dengan kolom-kolom yang diperlukan dalam mencatat transaksi sejenis.
2.    Transaksi yang terjadi dicatat sesuai dengan jenisnya dalam beberapa jurnal.
3.    Posting dari jurnal ke akun buku besar dilakukan secara berkala. Misalnya setiap satu minggu, dua minggu atau setiap akhir bulan.
4.    Biasanya digunakan pada perusahaan yang besar dimana transaksi sejenis sering terjadi sehingga memerlukan pencatatan khusus.
Jurnal khusus tidak hanya dibuat oleh perusahaan dagang saja. Jenis perusahaan-perusahaan yang lain dapat membuat jurnal khusus jika memang dibutuhkan karena seringnya suatu transaksi terjadi dalam perusahaan.

2) Macam-Macam Jurnal Khusus
Jurnal khusus yang dibuat oleh perusahaan dagang disesuaikan dengan kebutuhan. Jika suatu transaksi terjadi berulang-ulang dan sama, maka dikelompokan pada satu jurnal khusus. Sesuai dengan kegiatan perusahaan dagang maka jurnal khusus yang sering digunakan adalah jurnal pembelian, jurnal pengeluaran kas, jurnal penjualan, dan jurnal penerimaan kas. Apabila terdapat transaksi yang tidak dapat dicatat dalam keempat jurnal khusus tersebut maka pencatatannya dilakukan pada jurnal umum.

a) Jurnal pembelian
Jurnal pembelian adalah jurnal untuk mencatat pembelian barang dagangan dan harta lainnya secara kredit. Sedangkan pembelian barang dagangan dan harta lainnya secara tunai dicatat dalam jurnal pengeluaran kas.
Transaksi pembelian yang dilakukan bermacam-macam jenisnya maka jurnal pembelian dibuat dengan memerhatikan transaksi yang sering terjadi. Transaksi yang sering terjadi dibuat kolom khusus sedangkan untuk transaksi yang jarang terjadi digunakan kolom serba-serbi. Kolom serba-serbi digunakan untuk mencatat pembelian secara kredit barang-barang yang tidak disebutkan dalam kolom khusus yang disediakan. Nama kreditor dan akun yang harus didebit dicantumkan pada kolom keterangan.

b) Jurnal pengeluaran kas
Jurnal pengeluaran kas digunakan untuk mencatat pengeluaran uang, termasuk pembelian barang dagangan secara tunai dan pembayaran utang. Pada jurnal ini kolom utang dagang dan pembelian dibuatkan kolom khusus. Sedangkan untuk transaksi yang jarang terjadi dicatat pada kolom “Serba- Serbi”.
Untuk kolom kredit terdiri atas kolom kas dan potongan pembelian. Bila tidak ada potongan pembelian maka jumlah yang dicatat dalam kolom kas akan sama dengan debit pada kolom utang dagang. Namun bila terdapat potongan pembelian maka jumlah kredit pada kolom kas akan lebih kecil. Sedangkan jumlah potongan pembelian akan dicatat pada kolom potongan pembelian.

c) Jurnal penjualan
Penjualan barang dagangan oleh perusahaan dagang biasanya disebut penjualan. Penjualan barang dagangan secara tunai dicatat sebagai debit pada akun Kas dan kredit pada akun Penjualan. Biasanya dalam praktik, penjualan secara tunai dicatat dalam jurnal penerimaan kas. Sedangkan penjualan secara kredit dicatat dalam jurnal penjualan. Jadi jurnal penjualan adalah jurnal yang digunakan untuk mencatat penjualan barang dagangan yang dilakukan secara kredit. Penjualan barang dagangan secara kredit dicatat sebagai debit pada akun Piutang Dagang dan kredit pada akun Penjualan.

d) Jurnal penerimaan kas
Semua transaksi yang menambah jumlah uang kas dicatat dalam buku penerimaan kas (cash receipt journal). Uang kas dapat diterima dari berbagai sumber, misalnya setoran modal dari pemilik, pencairan kredit bank, penjualan tunai, penagihan piutang, dan penagihan wesel tagih serta bunganya.
Dalam perusahaan dagang, sumber penerimaan kas yang paling sering terjadi adalah penjualan tunai dan penagihan piutang dagang. Jurnal penerimaan kas dibuat untuk mencatat semua penerimaan uang.  Dengan demikian jurnal penerimaan kas dibuat kolom khusus. Banyaknya kolom dan judul akun ditentukan oleh sering tidaknya suatu transaksi terjadi.

e) Jurnal umum
Selain keempat jurnal khusus tersebut di atas, perusahaan harus tetap membuat jurnal umum untuk mencatat transaksi-transaksi yang tidak dapat dicatat dalam jurnal khusus yang tersedia, seperti retur pembelian dan retur penjualan.
d. Buku Besar Pembantu
Jurnal khusus dibuat untuk mencatat transaksi-transaksi tertentu, buku besar perusahaan juga dibuat untuk hal yang sama. Buku besar yang demikian itu disebut buku besar tambahan atau buku besar pembantu (subsidiary ledger). Buku besar pembantu digunakan untuk mencatat data lain disamping data yang terdapat dalam buku besar. Pada umumnya, buku pembantu merupakan bagian dari buku besar, yang merinci lebih lanjut data dalam salah satu akun.
Akun di buku besar yang mempunyai buku pembantu disebut akun induk atau akun pengendali (controlling account). Buku pembantu dicatat setiap hari dari bukti pembukuan dan dibuat secara individual. Pencatatan transaksi dalam buku pembantu bersamaan waktunya dengan pencatatan pada jurnal. Dengan demikian pencatatan pada buku pembantu bukan berdasarkan pada jurnal.
Pada umumnya dalam perusahaan dagang, buku pembantu yang digunakan adalah buku pembantu piutang atau disebut buku piutang (account receivable subsidiary ledger) dan buku pembantu utang yang disebut buku utang (account payable subsidiary ledger).
Fungsi buku piutang adalah mencatat rincian piutang perusahaan menurut nama langganan. Buku piutang merupakan rincian akun piutang dagang yang terdapat dalam buku besar. Dengan demikian akun piutang dagang merupakan akun induk bagi buku piutang. Adapun buku utang berisi rincian utang menurut nama kreditor. Akun pengendalinya adalah utang dagang.

Bentuk buku pembantu umumnya sama dengan buku besar. Buku pembantu dapat berbentuk ;
1)    Buku Pembantu Bentuk Skontro
2)   Buku Pembantu Bentuk Stafel

e. Posting dari Jurnal Khusus ke Buku Besar
Setelah transaksi dicatat dalam jurnal khusus, maka langkah selanjutnya yaitu memindahbukukan ke buku besar di setiap akhir bulan. Untuk melakukan posting atau pemindahbukuan dari jurnal khusus ke buku besar, perlu memerhatikan langkah-langkah berikut ini.
1) Menjumlahkan nilai transaksi pada jurnal khusus.
2) Menyiapkan akun-akun yang berhubungan dengan jurnal khusus.
3) Memindahkan angka-angka pada jurnal khusus ke akun yang bersangkutan. Jumlah kolom debit di jurnal khusus dipindahkan ke akun yang bersangkutan di sebelah debit. Sedangkan jumlah kolom kredit di jurnal khusus dipindahkan ke akun yang bersangkutan di sebelah kredit.
4) Berilah tanda posting dengan memberi nomor akun di bawah jurnal khusus. Untuk akun serba-serbi ditulis pada referensi kolom serba-serbi.
5) Pada kolom referensi tulis singkatan dari jurnal khusus dengan nomor halaman jurnal khusus. Untuk singkatan dapat digunakan sebagai berikut:
a)    JB = Jurnal Pembelian
b)   JJ = Jurnal Penjualan
c)    JK = Jurnal Pengeluaran Kas
d)   JM = Jurnal Penerimaan Kas

MATERI TENTANG PERSEDIAAN BARANG DAGANG (AKUNTANSI)


MENGELOLA DALAM PERSEDIAAN BARANG DAGANG\

PENGERTIAN PERSEDIAAN MENURUT (PSAK) NO.4 :
1. Keuangan
2. Akuntan
3. standar
4. pernyataan

Pengertian persediaan ada 3 :
1. barang yang siap atau tersedia untu dijual dalam situasi normal perusahaan
2. barang dalam proses produksi/dalam perjalan
3. perlengkapan (supplies) unuk memberikan jasa pelayanan

Pengertiaan barang dagang : barang yang dibeli untuk dijual/disimpan tanpa melihat proses produksi atau pengolahan.
Persediaan ada 2 macam :
A. dagang : persediaan barang bagang (merchandise inventory)
B. industry/monofaktur
1. bahan baku/mentah : barang penting/pembentuk
2. bahan/barang setengah jadi
3. barang jadi
Fungsi persediaan :
1. beerjaga-jaga
2. pendapatan/penerimaan bagi mperusahaan

SISTEM PENCATAN PERSEDIAAN
Ada dua system pencatatan untuk persediaan :

1. sistem perpetual (perpetual inventory sistem) yaitu : system pencatan persediaan dimana perusahaan akan mencatat setiap mutasi persediaan baik kuantitas/biaya pada akun pesediaan. System ini sering diterapkan oleh peruahaan dengan harga barang per unit relative mahal.
- Memiliki variasi spesifikasi barang sesuai kesuai keinginan klonsumen. Contoh :
1. Perusahaan mobil
2. Pesawat terbabang
3. Modal
4. Dll

2. System peridik/fisik yaitu :
System ecatatan persediaan dimana perusahaan tidak setiap saat mencatat mutasi persediaan baik kuantitas maupun biayanya pada akun persediaan.
Ciri sistem ini di terapkan pada :
1. Peruahaan kecil yang penjual barang secara eceran
2. Harga barang murah . contoh : eceran

PERSEDIAAN PENCATATAN SISTEM FISIK DAN PERPETUAL

keterangan Fisik Perpetual
1. Pembelian barang dagang pembelian xxx persediaan b.dagang xxx

kas/hutang xxx kas/hutang xxx
2. b. angkut pembeliaan b. angkut pembeliaan xxx persediaan b.dagang xxx

kas/hutang xxx kas/hutang xxx
3. retur pembeliaan kas/hutang xxx kas/hutang xxx

retur pembeliaan xxx persediaan b.dagang xxx
4. potongan pembelian kas/hutang xxx kas/hutang xxx

pot pembeliaan xxx persediaan b.dagang xxx
5. penjualan kas/piutang xxx kas/piutang xxx

penjualan xxx penjualan xxx


hpp xxx


persediaan b.dagang xxx
6. potongan penjualan pot penjualan xxx pot penjualan xxx

kas/piutang xxx kas/piutang xxx
7. retur penualan retur penjualan xxx retur penjualan xxx

kas/piutang xxx kas/piutang xxx


persediaan b.dagang xxx


hpp xxx


Penilaian persediaan
1. Metode periodic/fisik
Contoh : data persediaan suatu perusahaan
A. Fifo ( persediaan in first out / mpkp ( masuk pertama keluar pertama) : barang dagang yang ada di awal / masuk duluan akan dijual / dikeluarkan pertama kali / lebih duluan.
B. L ifo ( last in first out/ mtkp ( masuk terakhir atau keluar pertama )
C. Metode rata-rata sederhana : harga rata-rata persatuan dihitung dengan menjumlahkan harga rata-rata persatuan setiap pembelian dan pembelian awal dibagi jumlah tranksasi termasuk persediaan awal
D. Metode rata-rata tertimbang : harga rata-rata persatuan dihitung dengan menjumlahkan harga pembelian ditambah persediaan awal dibagi jumlah unit barang yang dibeli tambah persediaan awal
E. Metode tanda pengenal khusus : setiap barang yang dibeli (masuk) diberi tanda pengenal khusus masing-masing nya.

Penelitian persediaan system perpetual ada 3 :
1. fifo
2. lifo
3. rata-rata sederhana

Akuntansi Perusahaan Dagang

Akuntansi Perusahaan Dagang
Category on Akuntansi Dasar, Akuntansi Perusahaan
Bagaimana Pencatatan Akuntansi untuk Perusahaan Dagang?
Akuntansi perusahaan dagang harus memiliki sistem untuk mencatat penerimaan barang dagang, menyajikan informasi mengenai persediaan barang dagang yang akan dijual, serta mencatat penjualan dan beban atau harga pokok barang dagangan yang dijual.
Ciri Perusahaan Dagang
Kegiatan perusahaan jasa dalam menghasilkan pendapatan melibatkan pemberian pelayanan berupa jasa kepada pelanggan. Penghasilan atas jasa dilaporkan sebagai pendapatan jasa atau pendapatan honor (fee). Untuk mendapatkan laba bersih perusahaan jasa, pendapatan jasa atau honor dikurangi beban operasi yang terjadi pada saat menghasilkan jasa.
  • Perusahaan Jasa : pendapatan jasa      Rp xxxx
                                     beban operasi              -xxx
                                     laba bersih               Rp xxxx
  • Perusahaan Dagang : penjualan                               Rp xxxx
                                          harga poko penjualan                   -xxx
                                          laba kotor                              Rp xxxx
                                          beban operasi                              -xxx
                                          laba bersih                             Rp xxxx

Sedangkan aktivitas perusahaan dagang dalam menghasilkan pendapatan diperoleh dari penjualan barang dagang. Dan untuk menghasilkan barang dagang diperlukan adanya aktivitas pembelian persediaan barang dagang. Dengan begitu, ketika barang dagangan telah terjual, pendapatan tersebut dilaporkan pada akun penjualan dan untuk biaya atas barang dagang yang dijual dicatat pada akun harga pokok barang dagang (cost of merchandise sold) atau pada Harga pokok penjualan.
Akuntansi Pembelian untuk Perusahaan Dagang

Terdapat dua sistem akuntansi untuk mencatat persediaan barang dagang, pertama sistem persediaan perpetual dan kedua, sistem persediaan periodik. Sistem persediaan perpetual (perpetual inventory system) mencatat pembelian dan penjualan barang dagang pada akun persediaan.

Sedangkan sistem persediaan periodik (periodic inventory system) mencatat jumlah persediaan barang dagangan pada saat akhir periode dengan melakukan perhitungan secara fisik persediaan barang dagang (physical inventory atau stok opname).

Pada sistem persediaan perpetual pencatatan pembelian barang dagang secara tunai adalah sebagai berikut :

(Dr) Persediaan Barang Dagang Rp xxx

(Cr) Kas Rp xxx

Dan pembelian secara kredit dicatat sebagai berikut :

(Dr) Persediaan Barang Dagang Rp xxx

(Cr) Utang Usaha Rp xxx

Sementara untuk sistem persediaan periodik pencatatan pembelian barang dagang secara tunai adalah sebagai berikut :

(Dr) Pembelian Rp xxx

(Cr) Kas Rp xxx

Sedangkan pembelian secara kredit dicatat sebagai berikut :

(Dr) Pembelian Rp xxx

(Cr) Utang Usaha Rp xxx

Dan pada saat dilakukannya stock opname pada akhir periode pada sistem periodik mencatat harga pokok penjualan adalah sebagai berikut :

(Dr) Harga Pokok Penjualan (HPP) Rp xxx

(Dr) Pembelian Rp xxx
Diskon Pembelian

Untuk mencatat diskon pembelian pada sistem persediaan perpetual adalah sebagai berikut :

Pada saat mencatat utang,

(Dr) Persediaan Barang Dagang Rp xxx

(Cr) Utang Usaha Rp xxx

Pada saat pembayaran utang dengan diskon pembelian,

(Dr) Utang Usaha Rp xxx

(Cr) Kas Rp xxx

(Cr) Persediaan Barang Dagang Rp xxx – Diskon pembelian secara langsung mengurangi jumlah stok persediaan barang dagang.

Sedangkan untuk sistem persediaan periodik pencatatan diskon pembelian adalah sebagai berikut :

Pada saat mencatat utang,

(Dr) Pembelian Rp xxx

(Cr) Utang Usaha Rp xxx

Pada saat pembayaran utang dengan diskon pembelian,

(Dr) Utang Usaha Rp xxx

(Cr) Kas Rp xxx

(Cr) Diskon Pembelian Rp xxx
Retur dan Potongan Pembelian

Untuk mencatat retur dan potongan pembelian pada persediaan perpetual adalah sebagai berikut :

(Dr) Utang Usaha Rp xxx

(Cr) Persediaan Barang Dagang Rp xxx – Retur dan potongan pembelian secara langsung mengurangi jumlah stok persediaan barang dagang.

Pada persediaan periodik untuk mencatat retur dan potongan pembelian jurnal akuntansinya adalah seperti di bawah ini :

(Dr) Utang Usaha Rp xxx

(Cr) Retur dan Potongan Pembelian Rp xxx
Akuntansi Penjualan untuk Perusahaan Dagang

Biasanya pendapatan atas penjualan barang dagang dapat diidentifikasi pada buku besar sebagai Penjualan. Atau bisa juga perusaahan menggunakan istilah yang lebih tepat seperti Penjualan Barang Dagang.
Penjualan Tunai

Pada sistem persediaan perpetual, penjualan atas barang dagang secara tunai dapat dilakukan pencatatan akuntansi sebagai berikut :

Mencatat penjualan,

(Dr) Kas Rp xxx

(Cr) Penjualan Rp xxx

Mencatat Harga pokok penjualan,

(Dr) Harga Pokok Penjualan Rp xxx

(Cr) Persediaan Barang Dagang Rp xxx – Mengurangi persediaan sesuai dengan modal barang dagang yang dijual.

Pencatatan jurnal penjualan tunai untuk sistem persediaan periodik adalah sebagai berikut :

(Dr) Kas Rp xxx

(Cr) Penjualan Rp xxx

Dalam sistem persediaan periodik pencatatan jurnal akuntansi untuk Harga pokok penjualan dilakukan pada saat stok opname akhir periode.
Penjualan Kredit

Pada sistem persediaan perpetual, penjualan atas barang dagang secara kredit dapat dilakukan pencatatan akuntansi sebagai berikut :

Mencatat penjualan,

(Dr) Piutang Usaha Rp xxx

(Cr) Penjualan Rp xxx

Mencatat Harga pokok penjualan,

(Dr) Harga Pokok Penjualan Rp xxx

(Cr) Persediaan Barang Dagang Rp xxx – Mengurangi persediaan sesuai dengan modal barang dagang yang dijual.

Pencatatan jurnal penjualan kredit untuk sistem persediaan periodik adalah sebagai berikut :

(Dr) Piutang Usaha Rp xxx

(Cr) Penjualan Rp xxx

Dalam sistem persediaan periodik pencatatan jurnal untuk Harga pokok penjualan dilakukan pada saat stok opname akhir periode.
Diskon Penjualan

Untuk pencatatan jurnal Diskon penjualan, sistem perpetual dan sistem periodik memiliki persamaan dalam hal pencatatannya, yaitu sebagai berikut :

(Dr) Diskon Penjualan Rp xxx

(Cr) Piutang Usaha Rp xxx
Retur dan Potongan Penjualan

Pada sistem persediaan perpetual untuk mencatat jurnal Retur dan potongan penjualan adalah sebagai berikut :

Mencatat Retur dan potongan penjualan,

(Dr) Retur dan Potongan Penjualan Rp xxx

(Cr) Piutang Usaha Rp xxx

Jurnal untuk mencatat pengembalian persediaan,

(Dr) Persediaan Barang Dagang Rp xxx

(Cr) Harga Pokok Penjualan Rp xxx

Untuk sistem persediaan periodik tidak ada proses pencatatan Retur dan potongan penjualan dikarenakan pencatatan persediaan dilakukan pada saat perhitungan persediaan (stock opname) pada saat akhir periode.

Senin, 09 Februari 2015

Jumat, 30 Januari 2015


Tinkerbell Blue Glitter Wings